Zano Distro

Zano Distro
Operational Manager

Selasa, 19 Januari 2010

Antara Distro, "Fashion", dan Industri Kreatif

MENJAMURNYA distro ("distribution outlet") di Kota Bandung tak bisa dilepaskan dari perkembangan "fashion" dan industri kreatif di kota ini. Kehadiran distro yang semula hanya untuk kalangan terbatas, kini telah berkembang menjadi bagian dari selera massa.

KETIKA fashion menjadi bagian dari gaya hidup untuk menunjukkan jati diri seseorang, kelompok, atau komunitas, kreativitas pun menjadi suatu tuntutan. Tidak sedikit dari mereka yang lantas berusaha untuk menjadi beda, unik, dan ingin menunjukkan esensi diri masing-masing.
Oleh karena itu, produk global bukan lagi menjadi pilihan tepat untuk mereka yang ingin tampil eksklusif dan independen. Ketertarikan akan kebutuhan untuk tampil secara berbeda, unik, dan eksklusif tersebut berhasil dipenuhi oleh kehadiran distro yang memang sangat akrab dengan gaya hidup anak muda.
Sejak awal diperkenalkan, distro tumbuh di komunitas independen atau lebih populer dikenal sebagai komunitas indie. Mereka ingin membuat suatu usaha street fashion sendiri yang eksklusif dan mencerminkan gaya hidup komunitas tempat mereka berasal.
Distro mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan fashion dan gaya hidup anak muda karena distro memang khusus menyediakan kebutuhan pasar dan terus dikembangkan sesuai dengan trendsetter. Desain yang ditampilkan adalah tema yang sangat akrab di kalangan anak muda.
Umumnya produk yang ditawarkan dari yang berbau humoris, narsis, hingga hal-hal yang menyeramkan seperti kematian, tengkorak, kuburan. Sentuhan personal anak muda pun bisa tersalurkan dengan pelayanan menerima pesanan sesuai dengan desain pelanggan.
Distro mempunyai sifat eksklusif dan cenderung tidak menjual banyak produk untuk setiap desainnya. Distro tidak bisa disamakan dengan FO (factory outlet) karena dari sisi idealisme, konsep, serta produk yang dijual pun berbeda.
Melihat geliat gaya hidup anak-anak muda yang cenderung ingin tampil beda dalam pencarian jati diri menjadikan usaha distro menjadi ladang yang menggiurkan. "Kini tidak kurang dari 1.200 distro tersebar di Kota Bandung, bahkan konsep distro juga diterapkan di sejumlah pusat perbelanjaan," ujar Windi, manager marketing salah satu produsen pakaian di kawasan Surapati.
Menurut Windi, keberadaan distro mampu memuaskan gaya hidup fashion anak-anak muda. Mereka cukup konsumtif dan meski harga-harga produk di distro tidak bisa dikatakan relatif murah, namun masih bisa dijangkau dan sesuai dengan kantong-kantong mereka. Harga sebuah t-shirt di distro dipatok sekitar Rp 35.000,00 hingga Rp 100.000,00. Sementara harga jaket sweater yang kini cukup digandrungi anak muda harganya berkisar Rp 50.000,00 hingga Rp 95.000,00.
Selain harga, untuk desain fashion, mereka cukup terpuaskan. "Umumnya relatif tetap sama, yaitu didominasi warna gelap seperti hitam ataupun abu-abu dengan gambar-gambar simple dan unik, meski tidak sedikit anak muda dan remaja yang cenderung mengikuti tren di luar Bandung, semisal warna-warna hijau mencolok, ungu atau violet, putih, dan merah cukup mendapat perhatian anak muda," ujar Windi.
Keinginan untuk memenuhi gaya hidup fashion anak-anak muda menurut Hidayat M.Z., salah seorang pembuat pakaian di kawasan Jalan Surapati (Suci). Desain dengan gambar kaus motif kartun ataupun huruf-huruf kreatif dan lebih menonjolkan kualitas sablonan (misalnya sablonan full-print, water-print, sablon timbul, colorfull-print) paling banyak digandrungi. Meski demikian, secara berkala koleksi produk pesanan distro harus selalu dilakukan pemantauan.
Kini distro bukan hanya sebuah gerai yang memenuhi persoalan dan kebutuhan akan fashion generasi muda di perkotaan, tetapi distro beserta clothing company-nya membentuk konsumennya menjadi bagian yang membentuk sebuah gaya hidup baru bagi generasi muda di perkotaan. Ideologi awal yang merupakan counter attack dari budaya impor melalui produk-produk pakaian tersebut kini bisa dikatakan sukses dalam memberikan pengaruh yang sangat besar kepada generasi muda masa kini.
Kesuksesan tersebut dapat dilihat secara jelas, Kota Bandung selalu dijejali wisatawan setiap akhir pekan. Gaya hidup distro yang identik dengan komunitas indie yang anti-mainstream dan bergeser menjadi selera massa kini sudah semakin berubah sesuai dengan tuntutan gaya hidup konsumerisme masyarakat. Distro menjadi bagian dari gaya hidup berbagai lapisan usia.

(Retno/Pikiran Rakyat-Bandung)***

Pengikut

Powered By Blogger